Sabtu, 18 Maret 2017

save myself (?)

i wanna help myself, love myself and save myself.

Luka,
Sungguh aku tidak ingin merasa
Aku ingin mati rasa

Luka,
Datang tidak dipaksa
Pergi meninggalkan sisa

Luka,
Penuh airmata
Aku semakin merana

Luka,
Aku susah lupa
Teringat lalu ada duka

Luka,
Bagaimana bisa begitu menyiksa
Aku menjadi trauma


Akan hal-hal yang tadinya ku percaya
sudah kututup mata, hati, telinga
pada akhirnya ku tetap kecewa

Haruskah ku diam atau berlari perbaiki diri?
Mencabut hati yang berduri.

Minggu, 11 Desember 2016

Quarter Life Crisis

Dualima, seperempat abad ada di dunia. Dulu waktu kecil pengen jadi dewasa, kayak lagu sherina.

Andai aku t'lah dewasa
Apa yang 'kan kukatakan
Untukmu idolaku tersayang
Ayah... Oh...

Andai usiaku berubah
Kubalas cintamu bunda
Pelitaku, penerang jiwaku
Dalam setiap waktu

Sudah dewasa, jadi bingung. Semakin sulit mengungkapkan sayang. Menjadi sentimentil. Buat saya pembahasan keluarga sangat sensitif. Baru dibahas sedikit rasanya mau keluar air mata, langsung putar balik obrolan jadi canda.

Sudah dewasa, jadi bingung bisa dikatakan dewasa atau hanya umur saja bertambah jadi banyak putar otak gimana caranya buat bangga dan gak kasih kecewa. Berusaha sekuat tenaga dan hati jaga perasaan dan kasih yang terbaik buat mereka, orangtua. Betapa berharganya mereka, keluarga.

Sudah dewasa, menginjak dualima. Terlalu banyak pilihan yang kita tidak tahu apa yang harus ditentukan. Banyak mimpi yang rasanya ingin diraih, terlalu banyak keinginan yang ingin dicapai, terlalu pening dengan dilema yang rasanya gak selesai-selesai.

Dualima, umur yang terasa sangat dipikirkan. Agar jangan salah langkah. Gimanapun cara yang harus dilakukan. Segala mimpi ingin berubah nyata. Passion yang terabaikan berganti menjadi pekerja duduk delapan jam. Perusahaan yang menggerus kesenangan karyawan. Atasan yang sulit memberikan izin dan serta merta curiga. Keluh berimbang peluh setiap hari dirangkum dalam kata, lipatkan dalam pikiran. Apakah harus berhenti bekerja agar tidak mengeluh? Tapi melihat jendela banyak yang sulit dapat kerja menjadikan saya harus penuh syukur. Benar?

Dualima, umur nanggung lanjutin pendidikan. Tapi kata orang ga ada yang terlambat untuk belajar. Melanjutkan pendidikan master jadi salah satu impian. Tambah gelar adalah salah satu yang diinginkan, karena ilmu kemanapun harus dikejar dengan bagaimana caranya. Semoga bisa disegerakan, agar kemauan bukan sekedar mau saja.

Dualima, segala pencapaian dalam hidup mulai disusun. Cita-cita itu belum sampai pada garis finishnya. Masih harus estafet melewat rangkaiannya. Setiap resolusi awal tahun selalu menuliskan keinginan itu. Menulis buku, dan melihat buku karya sendiri ada di deretan rak toko buku, tidak perlu ada di rak best seller. Hanya ingin menelurkan karya yang sudah di nanti-nanti. Tapi bagaimana bisa memiliki buku kalau menulis saja sudah jarang. Semua tulisan hanya disimpan sendiri, dibaca ulang sendiri, berpikir sendiri, takut sendiri akan penolakan dari penerbit, takut tulisan yang dikarang menimbulkan kecurigaan pula. Seperti kalah sebelum berperang bukan? Tapi walaupun impian itu belum menjadi nyata, saya menemukan sebuah passion lain. Akhir tahun ini karya sudah ditelurkan kembali, usaha pakaian. Doaku terkabul, punya usaha bidang lain. Setelah pulalo di tahun 2015, sekarang baru berjalan orava. Alhamdulillah... Ada hikmah dibalik semuanya bukan? :)

Dualima, persahabatan yang dijalin semkin lama memiliki ruang yang kecil. Kita lebih nyaman menjadi pribadi yang memiliki teman ngobrol yang tidak terlalu banyak tapi hanya segelintir. Berteman dengan banyak orang tidak masalah tapi yang membuat nyaman bisa bercerita masalah pribadi tentu tidak perlu banyak. Lebih baik sedikit dan mengerti daripada banyak tidak peduli. Semakin banyak yang telah memilih jalannya masing-masing, komunikasi hanya lewat media sosial. Apakah bertemu sekadar basa basi tidak pakai hati atau memang rindu yang akhirnya terealisasi?

Dualima, bagaimana cinta? Sudah berapa kali datang ke pernikahan teman. Ratusan kali ditanya kapan? Dan selalu dijawab jawaban paling bijak seantero raya "doakan saja ya". Yang biasanya dibalas dengan cepetan halal kali. Tolong jangan rusak silahturahmi dengan pertanyaan basa basi ini. Saat teman-teman sebaya telah menikah, hamil dan berencana akan menikah tentu saja saya juga ingin menikah. Tapi menentukan pasangan hidup ini terasa sangat dipertimbangkan. Terasa mengkhawatirkan. Traumatis di masa lampau membuat saya selalu berpikir dan berpikir. Membuat bingung tujuh keliling. Yang jelas target menikah adalah segera. Tapi dengan syarat tanpa ragu dan sudah merasa yakin.

Selamat menikmati Quarter Life Crisis.

Rabu, 03 Juni 2015

Rindu.

Tuhan saya rindu diri saya yang riang nonton gigs, bercengkrama dengan alam bebas, membaca novel dari pengarang hebat, menulis sastra. Satu-satu semua hal yang biasa saya lakukan hilang. Saya sudah tidak pernah nonton gigs. Jarang mengunjungi alam. Novel saya mulai berdebu tidak pernah dibuka. Tulisan saya mulai hilang arah.

Dulu pernah saya bermimpi menjadi seorang penulis, saya menginginkan salah satu buku terbitan saya ada di salah satu rak toko buku yang biasa saya kunjungi. Pernah juga bermimpi menjadi crew sebuah konser musik dimana saya bisa berdansa sekaligus bekerja. Pergi kemana mimpi itu?

Kenyataannya pagi ini saya harus ada di angkutan umum yang riuh dengan bunyi klakson. Lalu lintas yang ramai kendaraan lengkap dengan polusinya. Saya menuju tempat menghabiskan 8 jam waktu tanpa kesenangan. Tulang punggung saya perlahan sakit akibat terlalu lama duduk. Penglihatan saya lambat laun kabur dengan minus yang kian bertambah akibat kotak kecanggihan teknologi yang disebut komputer.  Dan pekerjaan yang membuat seolah saya menjadi budak harta. Ya, saya menuju salah satu perusahaan ban nasional tersohor negeri.

Ya saya mengeluh, saya lelah. Rindu terhadap semua mimpi yang dulu saya junjung tanpa pamrih.

Lalu, apakah ini yang disebut tidak  bersyukur?

Sabtu, 03 Januari 2015

Pagi keempat.

Selamat pagi mendung januari 2015.

Tahun kembali membuka jalan baru. Menjadikan tahun yang lalu adalah perjalanan dengan pelajaran. Sebuah resolusi awal tahun yang selalu dituliskan sebagai rencana atau skema untuk mencapai beberapa keinginan. Walaupun sesungguhnya belum tentu semua menjadi nyata karena usaha yang dilakukan masih sekedar angan-angan tanpa pembuktian. Tahun ini sama seperti tahun sebelumnya punya resolusi, tapi tidak dituliskan. Hanya disimpan dalam carik hati dan pikiran. Resolusi tahun ini juga tidak sebanyak tahun kemarin. Semoga saja lebih terarah jalannya. Berharap semua menjadi lebih baik, berkembang dan jelas.

Flashback ke belakang banyak pelajaran di tahun 2014. Mental sebagai robot kapitalis yang tidak disuka mau tidak mau dilakoni. Awal tahun mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan besar melalui jobfair tetapi tidak betah karena lingkungannya yang tidak mendukung. Satu bulan kerja resign dengan alasan paling mengada-ngada. Mau S2 di luar negeri, luar biasa kan alasannya. Setelah itu nganggur berbulan-bulan. Sampai sadar sudah menyia-nyiakan rezeki dari Tuhan kemarin dengan resign. Akhirnya setelah berbulan-bulan mendapat pekerjaan baru di perusahaan pengekspor ban yang memiliki lingkungan menyenangkan walaupun banyak orang menganggap sebelah mata dengan perusahaan yang sekarang. Termasuk orangtua sendiri. Tetapi bersyukur masih bisa mendapat rezeki yang halal dari keringat sendiri.

Persahabatan mengajarkan banyak hal tahun ini. Semua semakin nyata dan cerah. Ditunjukan dan dituntun apa arti sebuah persahabatan. Bagaimana ketika dulu pernah menceritakan tentang hidup, berbagi semua hal dan percaya akan semua rahasia lalu dipinggirkan masa kini. Seolah tidak pernah kenal, tidak pernah bertahun-tahun hidup bersama. Lalu bagaimana lagi saya harus percaya kepada manusia-manusia bertopeng, berbulu domba namun berbadan serigala? Kemana mereka menghilangkan saya seolah tidak pernah ada? Semua pertanyaan yang akan bermuara di pikiran sendiri kan? Jika kecewa adalah jawaban maka tidak dibutuhkan jawaban lain bukan.. Beruntungnya masih memiliki teman yang setia dari jaman sekolah dulu. Yang selalu menasehati buruk dan baiknya. Saya tahu Tuhan sayang saya makanya banyak ditunjukan seperti sekarang. Jatuh adalah cara terbaik untuk belajar berjalan bahkan berlari.

Love, terus berjalan seiring sejalan bersama manusia yang sama. Belajar mengerti satu sama lain. Berkembang bersama. Merencanakan hal-hal yang baik untuk masa depan. Jika Tuhan mengizinkan biarkan kita menjadi halal dan menjadi dua manusia yang lebih baik lagi. Komitmen ini bukan sekedar komitmen biasa. Karena waktu terus berputar, umur terus bertambah. Semoga saya jadi manusia yang terus belajar dan kamu juga. Semoga kita selalu bahagia berjalan bersama. Terimakasih vian, kamu masih menemani selama pergantian 3 tahun belakangan :)

Selamat tahun 2015, semoga hidup berjalan lebih baik. Penuh syukur dan bahagia. Selamat berjalan maju.

Sabtu, 16 Agustus 2014

Mesin waktu

Aku sepakat untuk memiliki mesin waktu..

Aku buat mesin waktu.
Aku punya mesin waktu.
Aku cari mesin waktu.

Mesin waktu hilang!

Aku putuskan menghilangkan mesin waktu.

Sudah waktunya.

Senin, 23 Juni 2014

Cermin

Cermin..
Dimana kamu menyembunyikan aku?
Melarikan aku?
Menghilangkanku?

Cermin...
Aku tidak dapat temukan refleksiku.
Aku kehilangan ragaku ditubuhmu.
Lalu kemana aku?

Cermin..
Bagaimana rupaku kini?
Tolong kembalikan aku lagi.
Aku ingin kau setubuhi.
Biar ku lihat bagaimana aku pulang setelah pergi.

Ketika bercermin di malam hari. Ku tulis fiksi. Setelah dari kamar mandi.

Senin, 26 Mei 2014

Luka.

Luka
Datangnya tiba-tiba
Tanpa diminta
Doa mau bahagia
Yang ada duka

Luka
Datangnya tiba-tiba
Ajak airmata
Senyumpun menjadi lupa

Luka
Datangnya tiba-tiba
Tanpa rencana
Apalagi hitungan matematika