Sabtu, 26 Oktober 2013
sabtu malam.
pesta pora dimana-mana.
penonton konser band luar negeri yang tentu riuh.
dengan suara yang belum tentu merdu namun ramai serak.
beribu pasang mata menikmati pertandingan bola tim negeri nan jauh.
melalui salah satu saluran dalam sebuah kotak berlabel berwarna perak.
sebagian dari manusia ibukota menikmati lampu kota yang tidak teduh.
dengan ramai tawa riang lupa akan retak.
kemudian berapa pasang muda-mudi menikmati malam sabtu yang tidak punah
santapan cinta tentu menjadi pelengkap malam pekat.
lalu seorang manusia tanpa nikmat meriah,
akan mengakhiri tulisan sabtu malamnya.
dalam kamar suasana orange.
Minggu, 08 September 2013
Keluarga Bedali. Malang.
punya eyang lagi. punya om dan tante lebih dari satu.
punya sepupu yang masih kecil-kecil dan lucu.
nyaman.
satu kata yang bisa aku ungkapkan ketika selama berada di malang.
tidak ada keluh apapun.
suasana guyub. mangan gak mangan sing penting ngumpul.
di keluarga besar bedali, benar-benar terasa ungkapan itu.
seperti benar-benar memiliki ibu. ibu (lagi).
hal yang aku rindukan.
bahkan belum pernah rasanya pergi ke pasar berdua dengan ibu.
tapi aku diajak untuk merasakannya.
belum pernah juga berbicara panjang lebar dengan ibu.
lagi-lagi aku merasakannya.
serupa memiliki dua ayah.
pribadi yang berbeda. dingin namun perhatian.
haru. sungguh.
kutemukan sosok eyang lagi.
eyang yang selama ini aku kehilangan.
seperti kembali.
eyang yang selalu dengan wejangannya.
dengan segala bentuk toto kromo jawanya.
benar-benar seperti kudapati kembali.
aku belum pernah bermain dengan sepupu-sepupu yang masih kecil
aku tumbuh seiring sejalan dengan sepupu-sepupuku.
bertemu dengan sepupu-sepupu yang masih kecil itu, sungguh menggemaskan.
aku sangat suka. aku suka sekali anak kecil.
sama sepertimu.
belum pernah aku dapati sambutan hangat dari keluarga seperti keluargamu.
sesungguhnya aku masih ingin tetap tinggal lama disana.
menikmati udara pagi dari aroma pegunungan arjuna dekat rumahmu.
mendapati semua orang seisi rumahmu tiap pagi tengah sibuk merapihkan rumah,
kecuali kamu yang masih sibuk dengan selimutmu.
betapa aku rindu malang dan keluargamu.
ketika aku jatuh cinta padamu, aku juga mencintaimu keluargamu.
A New Life
masing-masing udah punya kehidupan baru.
kenapa pilih tinggal di masa lalu,
dan masih terus ganggu-ganggu.
padahal dengan jalan yang beda,
kita punya kesempatan bahagia yang sama.
*buat mbak-mbak yang masih ganggu. masih maksa tinggal di masa lalu. karena waktu bergerak tidak mundur, tapi terus maju.
Minggu, 09 Juni 2013
Dua Sisi
Sabtu, 16 Maret 2013
Bumi, katanya.
Pada suatu masa,
Debu bersarang seperti menyerang.
Tikus-tikus berdomisili di selokan berwujud nyata di tanah manusia.
Kongsi jahat menjamur.
Manusia dengan muka lebih dari satu menduplikat.
Musang dengan bulu kelinci membiak.
Segala manis kebaikan hanya berupa pahit yang menyamar.
Lalu kata lebih senang bermukim di penjara.
Diam menjadi solusi tanpa kritik yang ada.
Ini kehidupan rupanya.
Bumi katanya.
Sabtu, 02 Februari 2013
Aku bahagia pernah kecil
aApakah kamu mengingat ketika gemar merengek hanya ingin meminta susu dan orang tua mu lekas memberikannya?
Apakah kamu ingat ketika kamu terjatuh, lalu seringkali orangtuamu membantu membangunkanmu?
Apakah kamu masih mengingat saat idul fitri selalu berbelanja baru sebagai hadiah kamu telah berpuasa sebulan penuh?
Apakah kamu masih mengingat saat ayahmu menabung demi membelikan mainan-mainanmu?
Apakah kamu ingat saat ayahmu mengajarkanmu naik sepeda, atau bermain layangan di pekarangan rumah?
Apakah kamu masih ingat setiap minggu pagi selalu di depan televisi menonton kartun pagi?
Apakah kamu ingat ketika pertama kali kamu sekolah dan memiliki seragam?
Apakah kamu masih ingat ketika kamu belajar membaca dan menulis lalu orangtuamu selalu bangga?
Apakah kamu masih ingat semua tentang apa yang telah dialami sewaktu kecil itu?
Betapa bahagianya aku pernah kecil.
Selasa, 15 Januari 2013
Kepada Bulir Hujan
Kepada bulir-bulir hujan,
Entah kenapa kamu senang sekali berkunjung ke bumi akhir-akhir ini?
Sering menjatuhkan bulir-bulirmu ke tanah ini?
Apa rencanamu sampai selalu datang setiap hari?
Hujan,
Bulirmu serupa berkah ketika hadir di bumi
Entah pagi siang atau malam hari
Kadang berupa doa bulirmu diharapkan untuk melepas kering.
Tapi jika bulirmu seperti ini banyak yang meminta tolong.
Hujan,
Betapa aku mencintai kehadiranmu.
Aroma datangmu ketika bersentuh dengan tanah saja membuatku jatuh hati selalu.
Wangi yang selalu aku tunggu ketika musim kering menamu..
Hujan,
Minimalisir bulirmu ya..
Aku hanya tak tega ketika harus melihat banyak tangisan meronta..
Hujan, datanglah seperlunya..
Berikan hukuman seadanya..
Kutitipkan doa-doa pada setiap tetes bulirnya..
#30harimenulissuratcinta hari ke-3