Jumat, 08 September 2017

Aku Ingin Jadi Egois

Sungguh aku ingin jadi egois.
Aku ingin menjadi egois.
Aku sangat ingin pernah menjadi egois.

Nyatanya,
aku merelakan hal yang sangat aku inginkan.
lagi dan lagi.
mungkin ini sudah yang ke sekian kali.
aku mengalah lagi.
mimpi dan anganku tidak terjadi lagi.

aku bisa, aku mampu.
tapi aku tak sampai hati.
aku lewatkan kesempatan lagi.

mungkinkah yang kita inginkan belum tentu yang terbaik?
atau sebaliknya?

aku relakan keinginan, demi hal yang lebih besar. lebih baik.

semoga.

Senin, 07 Agustus 2017

Happy 8 !

Halo nukasvianta,

aku gak perlu panjang kali lebar kali tinggi buat jelasin gimana akhirnya kita bareng dan terus bertahan. aku rasa kamu juga udah tau gimana sayangnya aku ke kamu tanpa aku omongin atau umbar-umbar. karena semua itu kita yang rasa.

terimakasih karena kita saling ada untuk satu sama lain. kamu tau, kamu terlalu berarti.

selamat tanggal 8 di tahun ke 5, nukasvianta. semoga semesta terus menjaga kita dan Tuhan mengabulkan namamu dalam doa.

terimakasih kamu selalu ada :)

Rabu, 22 Maret 2017

Kejutan

Tidak seperti biasanya, tahun ini ada kejutan
walaupun tidak seperti yang aku bayangkan.
Tapi ada kejutan, bukan yang aku harapkan.
Akan susah terlupakan.

sebuah hadiah bertuliskan,
goresan.

Minggu, 19 Maret 2017

(L)ego

Aku dapatkan sekantung lego. Masih berantakan, ku ingin legoku menjadi sebuah bangunan. Legoku banyak warna, ada gelap dan terang. Kecil dan besar.

Hampir 5 tahun yang lalu aku mulai bangun dan susun lego ku. Aku rancang sebuah bangunan yang sederhana. Cukup sederhana dan apa adanya. Terkadang aku berekspektasi tumpukan lego ini akan menjadi bangunan yang aku idamkan. Aku memimpikan sebuah rumah.

Perjalanan menyusun lego ku mulai. Aku susun dari bawah. Aku ingin rumah legoku kokoh. Aku buat dinding-dindingnya dengan penuh percaya. Apalagi yang bisa kuat selain kepercayaan. Pada saat itu aku selalu meyakinkan diri bahwa lego yang ku dapat ini akan menjadi rumah. Terus ku susun legoku tahun demi tahun. Aku buat jendela dan pintu agar rumahku bisa melihat dunia. Yaa susunan lego ini tentu tidak sempurna, bisa dibilang ada kurangnya. Ada warna yang tidak kusuka, tapi pemakluman-pemakluman itu kubiarkan ada. Aku anggap seni saja dalam susunan legoku. Bangunanku juga tersusun tidak rapih. Semakin lama tersusun dan menjadi bangunan, susunan dindingnya ada yang mulai hilang. Jatuh. Tapi aku tetap menyusunnya. Sambil kuyakini dalam hati legoku harus menjadi sebuah rumah.

Sudah panjang waktu terlewati. Aku menjadi punya target untuk menyelesaikan legoku. Aku ingin segera melihat legoku menjadi rumah. Yang memiliki atap. Yang menaungi bangunanku dengan teduh. Atap yang menjadikan wujudnya  nyata sebagai rumah. Hampir, sedikit lagi. Sudah ada rangka atapnya, akan kususun atap itu untuk menjadikannya rumah dan kemudian aku tersenyum.

Semuanya tidak berjalan seperti yang aku inginkan. Susunan yang aku bangun satu persatu dari bawah, dinding yang kubagun dengan rasa percaya, jendela dan pintu yang ada untuk melihat dunia, atap yang menaungi sebuah komitmen semua menjadi berantakan. Susunan itu berantakan. Begitu saja. Tanpa permisi tanpa basa basi. Ada yang menerpa bangunanku, tanpa ku inginkan ada. Hadir begitu saja, membuat semua kepercayaan itu hilang. Membuat bangunan yang akan aku sebut rumah pun menjadi tak karuan.

Setelah lama, aku bertanya. Apakah aku harus percaya bahwa bangunan itu bisa ada? Bisa berdiri lagi? Bagaimana kususun kembali bangunan itu agar bisa menjadi rumah? Kini bangunanku semi runtuh, dan masihkah ku harus bangun dinding itu kembali dengan rasa percaya?

Lego, bisakah aku menangkan ego?

Sabtu, 18 Maret 2017

save myself (?)

i wanna help myself, love myself and save myself.

Luka,
Sungguh aku tidak ingin merasa
Aku ingin mati rasa

Luka,
Datang tidak dipaksa
Pergi meninggalkan sisa

Luka,
Penuh airmata
Aku semakin merana

Luka,
Aku susah lupa
Teringat lalu ada duka

Luka,
Bagaimana bisa begitu menyiksa
Aku menjadi trauma


Akan hal-hal yang tadinya ku percaya
sudah kututup mata, hati, telinga
pada akhirnya ku tetap kecewa

Haruskah ku diam atau berlari perbaiki diri?
Mencabut hati yang berduri.

Minggu, 11 Desember 2016

Quarter Life Crisis

Dualima, seperempat abad ada di dunia. Dulu waktu kecil pengen jadi dewasa, kayak lagu sherina.

Andai aku t'lah dewasa
Apa yang 'kan kukatakan
Untukmu idolaku tersayang
Ayah... Oh...

Andai usiaku berubah
Kubalas cintamu bunda
Pelitaku, penerang jiwaku
Dalam setiap waktu

Sudah dewasa, jadi bingung. Semakin sulit mengungkapkan sayang. Menjadi sentimentil. Buat saya pembahasan keluarga sangat sensitif. Baru dibahas sedikit rasanya mau keluar air mata, langsung putar balik obrolan jadi canda.

Sudah dewasa, jadi bingung bisa dikatakan dewasa atau hanya umur saja bertambah jadi banyak putar otak gimana caranya buat bangga dan gak kasih kecewa. Berusaha sekuat tenaga dan hati jaga perasaan dan kasih yang terbaik buat mereka, orangtua. Betapa berharganya mereka, keluarga.

Sudah dewasa, menginjak dualima. Terlalu banyak pilihan yang kita tidak tahu apa yang harus ditentukan. Banyak mimpi yang rasanya ingin diraih, terlalu banyak keinginan yang ingin dicapai, terlalu pening dengan dilema yang rasanya gak selesai-selesai.

Dualima, umur yang terasa sangat dipikirkan. Agar jangan salah langkah. Gimanapun cara yang harus dilakukan. Segala mimpi ingin berubah nyata. Passion yang terabaikan berganti menjadi pekerja duduk delapan jam. Perusahaan yang menggerus kesenangan karyawan. Atasan yang sulit memberikan izin dan serta merta curiga. Keluh berimbang peluh setiap hari dirangkum dalam kata, lipatkan dalam pikiran. Apakah harus berhenti bekerja agar tidak mengeluh? Tapi melihat jendela banyak yang sulit dapat kerja menjadikan saya harus penuh syukur. Benar?

Dualima, umur nanggung lanjutin pendidikan. Tapi kata orang ga ada yang terlambat untuk belajar. Melanjutkan pendidikan master jadi salah satu impian. Tambah gelar adalah salah satu yang diinginkan, karena ilmu kemanapun harus dikejar dengan bagaimana caranya. Semoga bisa disegerakan, agar kemauan bukan sekedar mau saja.

Dualima, segala pencapaian dalam hidup mulai disusun. Cita-cita itu belum sampai pada garis finishnya. Masih harus estafet melewat rangkaiannya. Setiap resolusi awal tahun selalu menuliskan keinginan itu. Menulis buku, dan melihat buku karya sendiri ada di deretan rak toko buku, tidak perlu ada di rak best seller. Hanya ingin menelurkan karya yang sudah di nanti-nanti. Tapi bagaimana bisa memiliki buku kalau menulis saja sudah jarang. Semua tulisan hanya disimpan sendiri, dibaca ulang sendiri, berpikir sendiri, takut sendiri akan penolakan dari penerbit, takut tulisan yang dikarang menimbulkan kecurigaan pula. Seperti kalah sebelum berperang bukan? Tapi walaupun impian itu belum menjadi nyata, saya menemukan sebuah passion lain. Akhir tahun ini karya sudah ditelurkan kembali, usaha pakaian. Doaku terkabul, punya usaha bidang lain. Setelah pulalo di tahun 2015, sekarang baru berjalan orava. Alhamdulillah... Ada hikmah dibalik semuanya bukan? :)

Dualima, persahabatan yang dijalin semkin lama memiliki ruang yang kecil. Kita lebih nyaman menjadi pribadi yang memiliki teman ngobrol yang tidak terlalu banyak tapi hanya segelintir. Berteman dengan banyak orang tidak masalah tapi yang membuat nyaman bisa bercerita masalah pribadi tentu tidak perlu banyak. Lebih baik sedikit dan mengerti daripada banyak tidak peduli. Semakin banyak yang telah memilih jalannya masing-masing, komunikasi hanya lewat media sosial. Apakah bertemu sekadar basa basi tidak pakai hati atau memang rindu yang akhirnya terealisasi?

Dualima, bagaimana cinta? Sudah berapa kali datang ke pernikahan teman. Ratusan kali ditanya kapan? Dan selalu dijawab jawaban paling bijak seantero raya "doakan saja ya". Yang biasanya dibalas dengan cepetan halal kali. Tolong jangan rusak silahturahmi dengan pertanyaan basa basi ini. Saat teman-teman sebaya telah menikah, hamil dan berencana akan menikah tentu saja saya juga ingin menikah. Tapi menentukan pasangan hidup ini terasa sangat dipertimbangkan. Terasa mengkhawatirkan. Traumatis di masa lampau membuat saya selalu berpikir dan berpikir. Membuat bingung tujuh keliling. Yang jelas target menikah adalah segera. Tapi dengan syarat tanpa ragu dan sudah merasa yakin.

Selamat menikmati Quarter Life Crisis.

Rabu, 03 Juni 2015

Rindu.

Tuhan saya rindu diri saya yang riang nonton gigs, bercengkrama dengan alam bebas, membaca novel dari pengarang hebat, menulis sastra. Satu-satu semua hal yang biasa saya lakukan hilang. Saya sudah tidak pernah nonton gigs. Jarang mengunjungi alam. Novel saya mulai berdebu tidak pernah dibuka. Tulisan saya mulai hilang arah.

Dulu pernah saya bermimpi menjadi seorang penulis, saya menginginkan salah satu buku terbitan saya ada di salah satu rak toko buku yang biasa saya kunjungi. Pernah juga bermimpi menjadi crew sebuah konser musik dimana saya bisa berdansa sekaligus bekerja. Pergi kemana mimpi itu?

Kenyataannya pagi ini saya harus ada di angkutan umum yang riuh dengan bunyi klakson. Lalu lintas yang ramai kendaraan lengkap dengan polusinya. Saya menuju tempat menghabiskan 8 jam waktu tanpa kesenangan. Tulang punggung saya perlahan sakit akibat terlalu lama duduk. Penglihatan saya lambat laun kabur dengan minus yang kian bertambah akibat kotak kecanggihan teknologi yang disebut komputer.  Dan pekerjaan yang membuat seolah saya menjadi budak harta. Ya, saya menuju salah satu perusahaan ban nasional tersohor negeri.

Ya saya mengeluh, saya lelah. Rindu terhadap semua mimpi yang dulu saya junjung tanpa pamrih.

Lalu, apakah ini yang disebut tidak  bersyukur?