Senin, 09 Agustus 2010

pantai

desir..
mendesir..

aku sayup terik.
dalam senja yang pelan berbisik.

aku di pesisir barat kota.
menamu dan dijamu senja.
aku kehabisan kata.
aku abadikan dalam peka.

kamu hilang, tidak terjala.
aku menuju jantung kota.
kamu diam di tempat aku pulang.

sepi ramai teman atau bukan?

Buat apa sepi bukan teman.
sepi itu teman.
sepi itu lengan.

Jika ramai itu bungkam.
buat apa diam.
buat apa dekam.
yang ada kamu padam.

sepi itu rindu.
rindu aku padamu.
rindu akan malam.
yang mencari sebuah teman.

ramai itu duka.
duka akan canda.
dan bisik-bisik manja.

lalu aku lari sepi.
mencarimu.
mencarimu..
dalam malam ketika ada rindu.

Dia bukan dia cuma kata

Dia berjalan.
Dia terdiam.
Dia terhenti.
mencari ruang.
ruang pasif tempat dia singgah.

Dia berlari.
Dia bicara.
Dia melangkah.
Dia sendiri merasa terbuang.
Dia berada untuk suatu tempat.

Dia sepi.
Dia sendiri.
Dia merasa dan dirasa.
Dia kenapa?
apa ada yang peduli?

Dia ramai.
Dia terburai.
Dia kembali.
Dia tertawa berbalut luka.



dia. bukan dia. cuma kata

Selasa, 03 Agustus 2010

segala yang tersirat

jika ada suatu pilihan yang tidak menghasilkan resiko banyak pasti sudah aku pilih jalan itu. bukan jalan yang seperti sekarang yang aku sudah tahu hanya ada satu pilihan dan pilihan yang ga mungkin. serta jawaban yang udah aku tau jauh sebelum nanti akan terjadi.

ah berulang kali aku selalu coba lari. tapi apa yang terjadi? aku berlari di lintasan yang sama. aku seperti hanya berlari untuk berputar kemabali ke tempat yang sama. dan pada akhirnya aku berdiri di tempat yang sama ketika aku baru akan mulai berlari. di titik yang sama.

jika a bukan b jangan pernah salahkan a karena b hanya mau muncul ketika semua hal tersirat telah selesai dimengerti tanpa harus memberikan segala rinciannya. makanya b selalu muncul ketika a telah dimengerti bukan? sama seperti yang aku sampaikan.

Kamis, 29 Juli 2010

mutilasi hati

gelap aku terjebak sulit bernafas.
sesak seperti ruangan pengap, oksigen tidak didapat.
aku banjir keringat dan coba memeras.

ruang kecil pikirku.
aku buka pintu yang warnanya saja kusam.
dari jendelanya ternyata ada yang sedang disayat sayu.

ah aku tahu.
sedang ada mutilasi di ruangan ini.
apa? mutilasi?
aku sedikit kaget yang tersayat tidak jejeritan.

pantas saja yang sedang di mutilasi, hati.
kasihan, sudah warnanya pudar.
masih saja ada yang mau mutilasi.
di sayat hingga tipis dan di belah jadi beberapa bagian.



bagaimana rasanya ya me-mutilasi hati?



asal jadi sebelum tidur
Auditerry,
30 juli 2010
pukul 00.09

Kamis, 22 Juli 2010

awas ada pengintai!

udah lama nih gue ga update blog. mau update sih sebenernya dari kemaren cuma males banget ngetiknya. ada beberapa kejadian yang terjadi di hidup gue belakangan ini. ada hal yang mengganggu menurut gue yang lebih tepatnya ada ORANG yang mengganggu.

sebenernya gini yah gue ga suka kalo ada orang yang nyampurin urusan pribadi gue. kecuali dia temen-temen gue, kalo dia temen gue sih fine secara berpengaruh gitu dalam hidup gue. nah dia siapa? temen gue juga bukan. oke emang dia keliatannya ga ganggu gue secara terang-ternagan tapi belakangan gue tau ternyata dia punya kerjaan ngintai gue. nah loh? NGINTAI GUE? apa maksudnya tuh? gue ga punya urusan apa-apa sama dia, dan gue pun ga pernah ikut campur dengan urusan dia.
gue bingung aja buat apa NGINTAI GUE? penting banget kayaknya. padahal dulu sebelum gue tau dia sering ngintai gue, gue ngerasa dia orang yang baik-baik aja. keliatannya sih baik dari tampangnya, gerak-geriknya tapi belakangan gue tau dia kayak gitu.

yaudahlah, gue sih ga terlalu mempermasalahin banget. lagian gue terlalu santai aja buat urusin hal-hal semacam itu. ya, buat dia yang mungkin baca blog gue dan kesindir dengan kata-kata gue diatas, gue cuma mau bilang bukan gue ada maksud apa-apa nih cuma gue cuma minta tolong jangan ganggu. lo udah punya hidup sendiri dan lo harus jalanin hidup lo. ternyata gue salah nilai lo yang gue kira diem-diem aja. kalo kesindir liat pesan-pesan buat lo, gue sih cuma minta lo intropeksi aja.

Minggu, 11 Juli 2010

fiksimini

beberapa kali gue nulis ya kalimat kalimat sastra buat sebuah account sastra @fiksimini di twitter. tapi ga ada yang di retweet. yaa, mungkin tulisan-tulisan gw kurang sastra kurang ngasih kejutan di endingnya kali ya. emang sih pas gue liat yang di retweet itu yang tulisannya oke oke semua. ini beberapa tulisan gw buat @fiksimini :

@fiksimini aku pernah tanya pada ibu, apa luka baginya? Dia bilang aku. Karena dia tidak tahu siapa bapak ku

@fiksimini bangun bangun tubuhku penuh luka. Astaga aku lupa tidur dengannya lagi.

@fiksimini lukanya enak. makanya aku makan sehari-hari.

@fiksimini warna hati kamu bagus masih merah. Aku beri sedikit warna hitam luka ya? Aku iri hati kamu terlalu sempurna


selesai gw baca ini kayanya emang tulisan gw belum dapet gregetnya sih. gw harus makin banyak nulis ma baca2 buku lagi. ngarep banget di retweet haha.